Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Awal munculnya pemikiran barat pasca perang dunia ke-2, peradaban eropa membawa perubahan vital yang sangat berpengaruh disetiap wilayah kerajaan menuju sebuah negara republik. Perubahan ini bukan peristiwa yang terencanakan artinya suatu rangkaian dari sejumlah peristiwa yang berangsur-angsur merombak tatanan sosial masa lalu yang masih tampak tidak pernah akan berubah . Selama kelas penguasa berkuasa, migrasi dalam negeri menyebabkan timbul pergeseran penduduk kota dipaksa membenahi kegiatan tradisionalnya. Terjadinya deregulasi ekonomi ini, adalah upaya diktator penguasa meningkatkan industrialisasi sampai mampu menyuburkan sifat individual manusia dengan mengubah gaya hidup mewah yang menjadi monopoli lapisan masyakat kalas atas.
Perubahan sosial yang cepat, bukan satu-satunya kekuatan yang menyongsong perubahan dizaman modern ini. Dalam matriks “Perubahan Besar” yaitu komersialisasi industri di seluruh dunia untuk membangkitan negaranya dari ekspansi kolonialisme Eropa yang menerapkan sistem kapital ke segalah penjuru planet bumi, baik pada pergolakan politik dan perubahan sosial-ekonomi yang terjadi di setiap Negara. Namun dalam matrik ini revolusi sosial pantas mendapat perhatian khusus, karena harus dipisahkan dari berbagai jenis kontradiksi yang disertai konflik atas proses perubahan struktur sosal, terutama dua kombinasi kejadian yang timbul secara (kebetulan) bersamaan; yaitu adanya perubahan struktur masyarakat dan pergolakan kelas, serta terjadinya perubahan politik-sosial. Akan tetapi pemberontakan sering muncul dari kalangan kelas bawah yang tertindas adalah untuk mewujudkan perubahan sosial tanpa kelas masyarakat.
Memahami kontradiksi yang berskala besar seperti yang terjadi perang dunia ke-3, perlu pemahaman yang maju dalam menjelaskan objek yang mengisolasi aspek yang sama masuk dalam peristiwa revolusioner itu, misalnya hura-hura atau kudeta. Memandang revolusi harus secara keseluruhan, termasuk segala kerumitan yang ada didalamnya, dari kelas penguasa yang terus berusaha melakukan ekspansinya ke Negara luar untuk mendapat bahan mentah demi kepentingan negaranya dengan melibralisasi pasar. Periodesasi kekuasaan eropa menjelang tahun 1776 ekspansi ini mulai berkurang, dengan timbulnya revolusi amerika dan pecahnya imperium spanyol.
Negara-negara Eropa mengalami krisis sosial-revolusioner finansial yang mengakibatkan pergolakan politik-pertentangan kelas yang mencapai puncaknya dalam transformasi struktur masyarakat yang cukup mendasar. Pola perubahan itu merupakan hal yang lazim dalam pemberontakan petani melawan para tuan tanah yang telah mengubah tatanan sosial kelas masyarakat agraris. Penerapan sistem monarki yang otokratis dan protobirokratis digantikan oleh Negara nasional yang birokratis bersifat inkorporasi massa. Sedangkan tuan tanah di zaman revolusioner sudah tidak mempunyai hak istimewa, kebebasan peran khusus dalam mengendalikan petani dan pembangian surplus masyarakat petani melalui lembaga-lembaga kekuasaan politik regional dan lokal .
Marshall Plan-menyatakan bahwa sejalin kelindan dengan doktin Truman dalam memulihkan stabilitas perekonomian eropa (decade 1950-an) pasca perang dunia II, sekaligus meng-cover Negara-negara barat eropa dari intervensionisme timur eropa dibawah pimpinan Rusia Komunis, pada tingkat tertentu menandakan proses pergeseran dominasi kapitalisme internasional dari eropa ke amerika . Pada perkembangannya, pergeseran ini menghasilkan dominasi peleburan liberalism perekonomia dan teknologi amerika terhadap perkembangan capitalism di dunia sebagai pengganti atas pengertian-pengertian konseptuil kolonialisme eropa.
Peralihan imperialisme yang sifatnya menghancurkan di negara yang belum berkembang, cukup didomenasi oleh negara kuat setelah keruntuhan Stalinisme, berarti terjadinya eksploitasi yang makin parah terhadap Dunia Ketiga secara keseluruhan . Dominasi negara-negara metropolitan masih lebih besar dari pada di masa lalu. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa birokrasi-militer lama yang langsung dikontrol oleh individu bos kolonial telah diganti tempatnya oleh dominasi kolektif atas dunia kolonial oleh negara-negara eksploiter yang kaya raya melalui mekanisme pasar bebas. Di bawah panji "globalisasi" dan "pembukaan pasar" imperialisme melakukan pemaksaan melalui kebijaksanaan penurunan tarif dan swastanisasi berbagai prasarana di seluruh Dunia Ketiga. Kebijakan-kebijakan ini adalah satu akibat dari krisis kapitalisme di Dunia Barat yang memaksa negara-negara imperialis tadi untuk terus mencari pasar dan lapangan investasi baru.
1.2 Rumusan masalah
Terkait penjelasan di atas, saya dapat merumuskan permasalahan yang akan dapat dipecahkan pokok persoalannya adalah :
1. Mengapa nasionalisme eropa mampu menyongsong perubahan di dunia ke 3?
2. Mengapa perkembangan kapitalisme merombak struktur masyarkat kelas lainnya?
3. Apa yang menyebabkan kontradiksi munculnya model peralihan imprealisme modern di dunia ke 3?
Bab II
Pembahasan
2.1 Proses Nasionalisme Eropa
Perjuangan kelas masyarakat eropa membentuk konsekuensi dari suatu krisis sosial revolusioner. Munculnya organisasi Negara birokratik yang terpusat melalui mobilisasi massa, berfungsi untuk mengkonsilidasikan revolusi dalam kontek perang saudara serta perang internasional. Salah satu revolusi yang terjadi di perancis merupakan peristiwa yang sangat kontroversial di kalangan sejarawan kontemporer yang dampaknya berpengaruh terhadap negara-negara dunia ke 3, sebagian aliran marxis menyatakan pendapat bahwa revolusi perancis dipimpin oleh para borjuasi untuk mengantikan feodalisme serta aristokrasi, dengan kapitalisme yang mapan. Uraian kontek ini secara sepihak benar, sebab pada umumnya masih berkisar dalam konteks sosial-ekonomi dari kerangka acuan yang mapan.
Perubahan struktur dan fungsi Negara memunculkan paham nation yang menonjol dalam terbentuknya sejarah kontemporer yang mencoba melihat lebih tajam seluruh makna revolusi. Peristiwa ini cukup kelihatan dalam esai alternative, menunjukkan bahwa logika konflik dan over produksi itu pertama-tama harus didasarkan pada transformasi sosial politik dan hukum yang akan diterapkan mekanisme birokrasi pemerintahan absolutism sampai mencapai level demokratisasi kerakyatan. Munculnya kerangkan legal-politik yang bermanfaat bagi kapitalisme yang lebih diakibatkan adanya perpaduan antara pergolakan politik untuk mencapai kekuasaan kapitalis birokratik.
Penerapan sistem birokratik kapitalistik pemerintahan negara didunia ke-3 cukup terlihat kelemahanya, ketika mengalami krisis politik pada tahun 1789 dari beberapa timbulnya regulasi ekonomi kapital yang akan membawa kontradiksi pada masyarakat kelas bawah yang mempunyai cita-cita revolusioner. Salah satu penyebab terjadinya peristiwa ini adalah negara mempercepat markentilisme (kapitalisme-perdagangan) ekspansi ekonomi kenegara-negara luar untuk mudah mendapat bahan baku dilakukan hampir satu abad lamanya. Produktivitas pertanian, industrialisasi perdagangan kolonial dan domestic, kesemuanya mengalami kenaikan harga dan tarif sewa meningkat lebih cepat dibanding tingkat upah yang rendah. Masyarakat mengalami kesenjangan sosial dari adanya perubahan sistem birokrasi, serta struktur masyarakat.
2.2 Perkembangan Kapitalisme
Kemajuan industri, yang motor penggeraknya adalah kaum borjuis, telah membuka isolasi kaum buruh, beralasan adanya persaingan dengan kombinasi revolusionernya. Kaum proletar mengalami berbagai tahapan perkembangan denga lahirnya perjuangan melawan kaum borjuis. Fase munculnya kapitasime dalam tahap ini kerapakali disebut sebagai tahap paling awal dari perkembangan modern kapitalisme (Kapitalisme Modern) yang berlangsung pada periode antara abad ke 16 dan 18, kerap disebut sebagai merchant kapitalisme (kapitalisme perdagangan). Di periode ini juga sering dengan ditentukannya ilmu bumi oleh pedagang-pedaganng luar negeri, terutama dari England dan Low Countries; European colonization of the Americas dan pertumbuhan yang cepat dari perdagangan luar negeri. Hal ini kemudian memunculkan kelas borjuasi dan akhirnya menenggelamkan sistem feudal yang telah ada sebelumnya.
Mekantilisme adalah sebuah sistem perdagangan untuk mengejar keuntungan, meskipun produksi yang tidak kapitalis. Karl Polanyi berpendapat bahwa kapitalisme belum muncul sampai berdirinya free trade (pasar bebas) di inggris pada 1830. Dibawah merkatilisme, para pedagang eropa, diperkuat oleh sistem kontrol dari Negara, subsidi dan monopoli, menghasilkan kebanyakan keuntungan dari jual-beli bermacam barang. Di bawah mekantilisme, serikat pekerja adalah pengatur utama dari ekonomi.
Diantara berbagai teori Merkatilis salah satunya adalah bullionism, doktrin yang menekankan pada pentingnya akumulasi logam mulia. Merkantilisme berpendapat bahwa negera seharusnya mengekspor barang lebih banyak dibandingkan jumlah yang diimport, dengan harapan bahwa luar negeri akan membayar selisinya dalam bentuk logam mulia. Merkantilisme juga berpendapat bahwa bahan mentah yang tidak dapat ditimbang dari dalam negeri maka harus diimport, dan mempromosikan subsidi, seperti penjaminan monopoli protective tarifft (tariff yang melindungi/proteksi ekonomi), untuk meningkatkan produksi dalam negeri dari hasil barang-barang produksi pabrik.
Para perintis merkantilisme menekankan pentingnya kekuatan negera dan penaklukan luar negeri sebagai kebijakan utama dari kebijakan ekonomi, jika sebuah Negara tidak mempunya supply (persediaan) bahan mentahnya maka mereka harus mengkoloni suatu daerah demi mendapatkan bahan mentah yang dibutuhkan. Koloni berperan bukan hanya sebagai penyedia bahan mentah tapi juga sebagai pasar bagi barang jadi. Agar tidak terjadi suatu kompetesi maka koloni harus dicegah untuk melaksanakan produksi dan dagangan dengan pihak asing (diluar dari Negara yang mengkoloninya.)
2.3 Model Peralihan Imperialisme Modern Dunia III
Masalah negara revolusi, melahirkan imperialisme dengan meleburkan program marketilisme yang ekspansi ditanah jajahan (baca: koloni). Bangsa eropa mempercayai bahwa kelangsungan negara industri sangat membutuhkan kerja sama dengan tanah jajahanya. Sebelumnya perang imperialis mendorong percepatan proses kapitalisme yang memonopoli negara terjajah. Akibatnya, dalam Abad ke-19 eropa melakukan ekspansi keberbagai Negara dunia terdiri beberapa motif yang dijadikan pegangan memperkuat ketahanan koloninya; adalah akibat revolusi industry, motif agama dan kemanusiaan, pertimbangan prestise. Salah satu pendorong lahirnya imperialism modern.
Aliran ini (Plekhanov, Potresov, Breshkovskaya, Rubanovic, dan dalam bentuk yang agak terselubung, Tuan-tuan Tsereteli, Cernov, dan konco-konconya di Rusia; Scheidemann, Legien, David, dan lain-lainnya di Jerman; Renaudel, Guesde, Vandervelde di Perancis dan Belgia; Hyndemann dan kaum Fabian di Inggris, dsb., dsb.), sosialisme dalam kata-kata dan chauvisnisme dalam perbuatan, berciri penyesuaian yang nista dan membudak dari "pemimpin-pemimpin sosialisme" tidak saja pada kepentingan-kepentingan borjuasi nasional "milik mereka", tetapi justru pada kepentingan-kepentingan negara "milik mereka sendiri", karena kebanyakan dari apa yang dinamakan Negara-negara Besar telah lama menghisap dan memperbudak sejumlah bangsa kecil dan lemah.
perang imperialis justru perang untuk membagi-bagi dan membagi-bagi kembali barang rampasan macam ini. Perjuangan untuk pembebasan massa pekerja dari pengaruh borjuasi pada umumnya dan dari pengaruh borjuasi imperialis pada khususnya, tidaklah mungkin tanpa perjuangan melawan prasangka-prasangka oportunis mengenai "negara". Pertama kali kita periksa ajaran Marx dan Engels tentang negara, kita bicarakan secara sangat terperinci segi-segi ajaran ini yang telah dilupakan atau telah didistorsikan sepenuhnya oleh kaum oportunis. Kemudian, kita akan membahas secara khusus orang yang paling bertanggungjawab atas berbagai distorsi dan pemutabalikan ini, yaitu Karl Kautsky, pemimpin yang paling terkenal dari Internasionale II (1889-1914), yang telah mengalami kebangkrutan yang begitu menyedihkan dalam masa perang yang sekarang ini.
Akhirnya, peralihan imperalisme dapat ditarik dari hasil pengalaman terjadinya peristiwa revolusi di Rusia tahun 1905, sedang menyelesaikan tahap pertama perkembangannya; tetapi seluruh revolusi ini pada umumnya dapat dipahami hanya sebagai salah satu mata rantai revolusi proletar sosialis sampai melahirkan perang imperialis di negara jajahannya. Maka dari itu, masalah hubungan revolusi sosialis proletariat dengan negara memperoleh bukan hanya arti penting dalam politik praksis, tetapi harus memperoleh juga segi pentingnya sebagai sebuah program mendesak, yaitu masalah kejelasan agenda politik massa mengenai apa yang akan harus mereka kerjakan di masa depan yang sangat dekat demi untuk membebaskan diri dari penindasan kapitalisme.
Bab II
Penutup
Kesimpulan
Beberapa catatan uraian diatas dapat digaris bawahi bahwa nasionalisme eropa merupakan salah satu bentuk proses lahirnya imperialism modern yang menjadi bagian penting dalam melancarkan kapitalisme yang mempunyai karakter yaitu; akumulasi, ekspansi, dan eksploitasi menjadi agenda politik internasional
Daftar Pustaka
Franz Magnis-Suseno 1999, Pemikiran Karl marx; Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.
Theda Skocpol 1991, Negara Dan Revolusi Social; Suatu Analisis Komparatif Tentang Perancis, Rusia, Dan Cina, Jakarta. Anggota IKAPI.
Hernando De Soto 1992, Masih Ada Jalan Lain; Revolusi Tersembunyi Negara Dunia Ketiga,Jakarta. Anggota IKAPI.
Darsiti Soeratman 1974, Sejarah Afrika Zaman Imperialisme Modern Jilid II, Yogyakaarta. Seri Penerbitan Textbook.
Michael P Todaro 1987, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Jakarta. Anggota IKAPI
Bertrand Russell 1946, History of Western Philosophy and Its Connection With Political and Social Circumstances From The Earlies Times to The Present Day, London. LTD
Sumitro Djojohadikusumo 1991, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta. Anggota IKAPI
Robert P. Clark 1989, Menguak Kekuasaan Dan Politik di Dunia Ketiga, Jakarta. Anggota IKAPI
Benedict Anderson 1999,Komunitas-Komunitas Imajiner: Renungan Tentang Asal-Usul Dan Penyebaran Nasionalisme, Yogyakarta. Pustaka Pelajar
Sundoro Hadi M 2007,Dari Renaisans Sampai Imperealisme Modern: Sejarah Peradaban Barat Abad Modern, Jember. Jember Universitas Press
Syam Firdaus 2007, Pemikiran Politik Barat; Sejarah, Filsafat, Ideologi dan Pengaruhnya Terhadap Dunia ke-3, Jakarta. PT Bumi Aksara
se gini aja
BalasHapus