Sabtu, 03 April 2010

SUBJEKTIVITAS DAN OBJETIVITAS DALAM SEJARAH

Pandangan sejarah kebebasan manusia, banyak perspektif yang dapat meyakinkan bahwa tindakan manusia bermula dari kebutuhannya, nafsu, kepentingan, karakter, dan bakat-bakat dalam dirinya. Sesungguhnya, tindakan itu muncul seolah-olah berada dalam drama tindakan dan kebutuahan, nafsu, dan kepentingan adalah satu-satunya sumber yang menjadi penyebab efisien utama. Memang drama ini melibatkan tujuan universal, kebijakan, atau patriotisme yang muliah, tapi kebijakan dan tujuan seperti itu tidak memiliki makana dalam kanvas besar sejarah.
Kekuatan yang terletak pada fakta atas semua hal itu tidak terlalu memperihatinkan batasan hukum dan moralitas yang dibebaska padanya; dan karena dorongan alamiah ini lebih dekat dengan inti hakekat manusia dari pada kenyataan lahiriahnya yang mengarah pada pembentuakan atas diri, hukum dan moralitas. Ketika kita merenungkan fenomena pagelaran nafsu ini, dan akibat kekerasanyang ditimbulkannya maka pantas jika irasionalitas dihubungkan tidak hanya dengan nafsu itu, tapi bahkan-kita bisa mengatakan khususnnya-dengan desain kebaikan dan tujuan yang mulia.
Saat menyaksikan munculnya kejahatan, keburukan, bencana yang menimpa kerajaan yang pada awalnya berkembang dengan baik yang sebagai hasil keasi pikiran manusia, maka kesedihan yang datang atas terjadinya kerusakan yang bukan semata-mata kerja alam melainkan olah manusia, refleksi yang bisa menyadarkan kita akan sebuah kesediahan moral, sebuah pemberontakan kehendak baik ( roh ). Tanpa bermaksud menyatakan sesuatu dengan berlebihan, rangkaian bencana yang tampak sederhana namun pesti menyelubungi bangsa dan pemerintahan yang paling mulia sekalipun, bersandingan dengan kebijakan pribadi yang patut diteladani tentunya akan membentuk sebuah gambar menakutkan dan membangkitkan emosi yang paling dalam serta kesedihan tanpa harapan yang tidak bisa di imbangi dengan usaha yang bisa menghibur hati.
Kemudian yang kita perlu dititik tekankan, bahwa tak ada yang tertelesaikan tanpa adanya kepentingan pada sebagian orang yang menimbulkan “kepentingan” disebut “ nafsu”, maka seluruh individu tengah mengonsentrasikan semua hasrat dan kekuatannya, dengan kemauan, pada pengabaian atas semua kepentingan dan tujuan lain yang aktual atau pada satu objek-kemudian kita bisa menegaskan bahwa tak ada yang agung didunia bisa tercapai tanpa kehadiran nafsu manusia. Ada dua unsur dalam sebuah penyelidikan : Pertama, Ide ibarat kain. Kedua, Kompleksitas nafsu manusia ibarat permadani luas yang terhampar dalam sejarah dunia.
Hubungan antara keduanya secara konkret merupakan kebebasan moral dalam negara. Objektivitas partikular yang berkaitan dengan kehendak pribadi berdiri sediri secara keseluruhan untuk menentukan arahnya, karena seorang pribadi adalah wujud spesifik. Pada umumnya Istilah “karakter” yang mengekspresikan keunikan kehendak manusia. Berbeda dengan istilah “nafsu” yang bisa mengartikan partikularitas pada sebuah karakter, maka nafsu bersifat substansial (subjektif ) dapat dimunculkan dibawah bentuk kesatuan kebebasan dan kebutuhan. Hal ini kedua persepektif jelaskan akan lebih terinci.

Subjek sejarah

Dalam sejarah dunia, ketika manusia berhadapan dengan Ide yang telah memanifestasikan dirinya dalam unsur kehendak manusia, dari kebebasan manusia....jika dipandang secara objektif, ide dan individu partikular berada dalam pertentangan besar dengan kepastian dan kebebasan-perjuangan manusia melawan takdirnya. Tapi manusia menganggap kepastian tidak terpisah dari nasib, yang berasal dari Ide Ilahi.
Pertanyaannya kemudian; bagaimana Ide yang tinggi ini menyatu dengan kebebasan manusia ? kehendak individu adalah bebas dapat hadir secara abstral, absolut dan berada dalam dirinya, sesuai dengan apa yang dihendaki. Bagaimana kemudian yang univesal, yang rasional secara umum, menjadi penentu dalam sejarah? Kontradiksi ini tidak dapat dijelaskan dengan lengkap dan mendetail. Hubungan subjetivitas membawa tindakan manusia dalam sejarah menghasilkan akibat-akibat tambahan, dibalik tujuan dan pencapaian langsung, dibalik pengatahuan dan hasrat yang pesti.

Objek sejarah

Pengaruh asing ke dalam dunia kehidupan kebangsaan suatu bangsa melalui karya ilmiah yang sering dipandang tahaiyul. Anggapan itu didasarkan atas keyakinan bahwa dibidang ilmiah sejarah tentu disajikan serba ilmiah dan objektif ( R Moh. Ali, 2005 ). Faktor kenyataannya adalah : 1) masalah (problem) yang hendak dipecahkan oleh seorang penyelidik sejarah adalah hasil si penyelidik dapat dipengaruhi oleh faktor masa dan golongan. 2) penentuan sumber yang akan diselidiki bersifat selektif yang didasarkan atas faktor-faktor tersebut. 3) perumusan fakta dari sumber-sumber yang akan diatas di kuasai oleh faktor tersebut. 4) pembuatan hubungan antar fakta yang tidak dapat dilepaskan dari seleksi dari sejumlah kemungkinan berdasarka faktor-faktor. 5) prnempatan fakta kedalam rangkaian atau struktur yang lebih besar (cerita dsb).
( Hegel, 2005 ), Partikular memiliki peran sendiri dalam sejarah dunia dan kehidupan manusia terbatas, suatu saat akan mengalami mati. Ide umum yang melibatkan dirinya dalam oposisi universal masih beradah di balik layar aspek individualitas manusia hubungannya dengan yang tertinggi, yaitu sebuah unsur yang secara absolut tidak berposisi sebagai subordinat kepentingan subjektif, untuk mengawali sesuatu yang khas bagi nseorang individu yang menghargai dirinya sendiri sebagai orang yang paling bijak yang bersifat Ideal. Namun dengan Istilah “Ideal”, kita memahami yang Ideal dari nalar, kebijakan dan kebenaran.
Menemukan kesalahan subjektif dalam sudut pandang yang hanya bertempuh pada kekurangannya, tanpa memahami nalar universal yang dikandungnya. Dalam menyatakan sebuah perhatian demi kesejahteraan secara keseluruhan dalan dalam menunjukkan kemiripan nurani yang baik, nalar bisa saja terlalu pongah dengan keadaannya yang agung.

Daftar Pustaka

 Mudji Sutrisno Sj, Nalar dalam Sejarah. Mizan Republik, 2005
 Dr. Darsono P, pengantar sejarah dan metode sejarah. Jakarta, 2007
 R. Moh. Ali, pengatar sejarah indonesia. Yogyakarta 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar